ISTILAH “ABDI” DALAM PENGGUNAAN KALIMAT BAHASA INDONESIA

Tanggal 03 Feb 2015 13:34 WIB

ISTILAH “ABDI” DALAM PENGGUNAAN KALIMAT BAHASA INDONESIA

 

 
 
 

 

iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iin

[Surotul Fatihah 1:5] Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

 

Ikhwatuliman rohimakumulloh

Kata na’budu dalam penggalan surat Al-Fatihah ayat 5, merupakan turunan dari kata ‘abada ditambah dengan dhomir (kata ganti) nahnu (kami), nahnu + ‘abada  menjadi na’budu

Selanjutnya kata ‘abid dan ‘abdi dirujuk dari kosakata Arab, yaitu ‘aabid dan ‘abdiyy. Keduanya berasal dari akar kata (derivasi) ‘abada, berarti “beribadah; menghamba.” Ibn Faris dalam Mu’jam Maqaayiis al-Lughah menyebutkan, kata bentukan tiga huruf dasar ‘ain ba-dal menunjukkan dua simpul makna yang berlawan satu sama lain. (www.noor-magazine.com/2012/08/makna-kata-abad-abid-abdi-abadi)

 

Kata ‘abdi sering kali dirujuk penggunaannya dalam berbagai kalimat dalam bahasa bahasa Indonesia antara lain::

  1. Abdi Negara
  2. Kami mengabdikan diri kepada pemerintah/orpol/ormas dsb.
  3. Padamu negeri kami mengabdi
  4. Kami mengabdi kepada tanah air
  5. Citra Abdi Komisi, dsb.

 

Lalu apa masalahnya, kata ‘abdi dalam Al-Qur’an antara lain di Surat Al-Fatihah ayat 5 hanya dibenarkan untuk mengabdi kepada Alloh. “hanya engkaulah (ya Alloh) yang kami ‘abdi (sembah)” jadi mafhum mukholafahnya“tidak dibenarkan ada pengabdian kepada selain Alloh”. Contoh : mengabdi kepada tanah air, kalau konsisten dengan penerjemahan maka sama artinya dengan beribadah kepada tanah dan air. Mengabdi kepada Negara artinya beribadah kepada Negara.

Bandingkan juga dengan pemberian nama untuk seseorang yang menggunakan kata abdi, seperti: Abdurrohman yang artinya abdinya yang maha Rohman (salah satu nama/sifat Alloh); Abdul Ghani yang artinya abdinya yang maha Kaya; Pemberian nama seperti itu dibenarkan dalam ajaran Islam.

 

Kita jangan menggunakan nama Alloh sebagai nama manusia, kecuali diawalnya memakai kata abdi. Seperti : Pa Rohman seharusnya Pa Abdul Rohman, Pak Barr seharusnya Bapa Abdul Barr, Pa Malik seharusnya Bapak Abdul Malik dsb.

Jangan pula kita menggunakan kata abdi dalam rangkaian yang mengesankan penyebahan kepada tuhan selain Alloh seperti Abdul Butun artinya pengabdi perut (pengabdi hawa nafsu), Abdul Uza (pengabdi tuhan al-uza) Abdul Latta (pengabdi tuhan latta) (tuhannya arab jahiliyah).

Untuk itu marilah kita (saya, Bapak, Ibu) berhati-hati dalam menggunakan kalimat serapan dari bahasa arab jangan sampai menyalahi aqidah yang kita anut.

Setiap hari minimal 5 kali kita menyampaikan kepada Alloh “iyyaaka na'budu wa-iyyaaka nasta'iin” Hanya Engkaulah (ya Alloh) yang kami sembah (‘abdi), dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Kenyataannya kita (saya, Bapak dan Ibu) masih saja menyatakan pengabdian kepada yang lain, seolah-olah surat Alfatihah yang kit abaca berulang-ulang tidak ada bekasnya.

Maka (maaf), pantas saja jika sebagian bangsa ini masih memprioritaskan rapat urusan Negara ketimbang segera melaksanakan Shalat berjamaah tepat waktu, wong yang diabdinya juga Negara, sebagian manusia sering lupa akan kewajiban kepada Alloh wong yang diabdinya juga pekerjaan, lembaga, partai dsb.

 

Jadi kalau begitu apa kata yang paling tepat untuk: Abdi Negara; Kami mengabdikan diri kepada pemerintah/orpol/ormas dsb.; Padamu negeri kami mengabdi; Kami mengabdi kepada tanah air;Citra Abdi Komisi dsb.

 

Sesungguhnya bisa jadi pembuat kalimat tidak bermaksud menapikan Al-Qur’an Surat Al-Fatihah ayat 5. Jikapun dikonfirmasi paling jawabannya “ah itu hanya sekedar istilah” yang dimaksud abdi disini adalah berbakti atau berkhidmat.

Dalam hemat penulisserapan bahasa arab yang paling tepat untuk pelayan Negara adalah khodim atau diadaptasi menjadi berkhidmat

Di Arab Saudi Raja di panggil juga Khodimul haromain (pelayan dua kota suci - Makah dan Madinah), atau khodimul umat (pelayan masyarakat/umat) bukan abdul haromain (abdi dua kota suci) atauabdul umat (abdi masyarakat/umat)

Maka seharusnya umat islam mengganti kata :

  1. Abdi Negara seharusnya menjadi Pelayan Negara atau berkhidmat kepada Negara atau berbakti kepada Negara (berbakti bisa disama artikan dengan albirr/berbuat baik (dalam bahasa Arab)
  2. Kami mengabdikan diri kepada pemerintah/orpol/ormas dsb. Seharusnya menjadi Kami menghidmatkan  diri atau berbakti kepada pemerintah/orpol/ormas dsb.
  3. Padamu negeri kami mengabdi seharusnya menjadi Padamu negeri kami berkhidmat/berbakti
  4. Kami mengabdi kepada tanah air menjadi Kami berbakti kepada tanah air
  5. Citra Abdi Komisi menjadi Citra Bakti Komisi

Pelajaran yang paling pokok yang bisa diambil oleh umat manusia khususnya umat muslim:

Setiap kita adalah pemimpin, maka kewajiban yang pertama bagi seorang pemimpin kepada bawahannya adalah mengajak untuk hanya mengabdi kepada Alloh dan tidak mensekutukanNya (InsyaAlloh ini akan menjadi tagihan di akhirat kelak di pengadilan Alloh) dan kita akan dituntut oleh para bawahan kita apabila kita (saya, bapak, ibu)  tidak mengingatkan bawahan kita di dunia untuk mengabdi kepada Alloh, tidak menyuruh Shalat serta perintah agama lainnya. Suami tidak mengingatkan Isteri, orang tua tidak mengingatkan anak, Pa RT tidak mengingatkan warga se RT, Pa RW  tidak mengingatkan warga se RW, Pa Lurah atau Pa Kades tidak mengingatkan warga se kelurahan/se desa, begitu pula Pa Bupati, Pa Walikota, Pa Gubernur sampai Pa Presiden akan ditanya di pengadilan akhirat kenapa tidak mengajak warganya untuk mengabdi hanya kepada Alloh. Adapun kinerja yang dilakukan seperti berbakti kepada Negara dan bangsa kerangkanya (framenya) adalah semata-mata dalam rangka pengabdian kepada Alloh SWT.  Tentu ini bahan renungan kita semua. Wallahu A'lam Bishawab. Prsd.

Bagikan
Berita Terkait