PENJARA ITU NAMANYA ANNARU

Tanggal 29 Jan 2015 09:05 WIB

PENJARA  ITU NAMANYA  ANNARU

 

 

 
 
 
 
 

 

qaala udkhuluu fii umamin qad khalat min qablikum minaljinni waal-insi fiinnaari kullamaa dakhalat ummatun la'anat ukhtahaa hattaa idzaa iddaarakuu fiihaa jamii'an qaalat ukhraahum li-uulaahum rabbanaa haaulaa-i adhalluunaa faaatihim 'adzaaban dhi'fan minannaari qaala likullin dhi'fun walaakin laa ta'lamuun

 

[7:38] Allah berfirman: "Masuklah kamu sekalian ke dalam neraka (annar) bersama umat-umat jin dan manusia yang telah terdahulu sebelum kamu. Setiap suatu umat masuk (ke dalam neraka), dia mengutuk kawannya (yang menyesatkannya); sehingga apabila mereka masuk semuanya berkatalah orang-orang yang masuk kemudian di antara mereka kepada orang-orang yang masuk terdahulu: "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka". Allah berfirman: "Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui".

 

Ikwatulliman rohimakumulloh (Ibu-ibu/Bapak-bapak/sahabat-sahabat/saudara-saudara sekeyakinan yang mudah-mudahan memperoleh kasih sayang  Alloh)

Bayangkan ketika seseorang divonis bersalah oleh hakim di depan pengadilan dan harus menginap beberapa tahun di hotel prodeo dalam rangka mempertanggungjawabkan perbuatan melanggar hukum yang pernah ia lakukan. Maka apa saja yang dapat saya, bapak atau ibu bayangkan? Bisa jadi orang tersebut menyesal jika itu benar dilakukan, atau protes karena salah vonis. Terbayang hari-hari ke depan harus berada di dalam sel tahanan, makan minum yang tadinya bebas menjadi dibatasi, begitu pula privasinya terganggu, tidak bisa bepergian bebas, belum lagi secara psikologis bagaimana  harus berhadapan dengan opini masyarakat, bagaimana dampaknya terhadap keluarga serta bayangan-bayangan lainnya yang membuat pikiran dan hati menjadi ciut. Sungguh penjara merupakan salah satu tempat  yang sangat tidak diinginkan siapapun di dunia ini (kecuali orang-orang tertentu seperti Nabi Yusuf yang memohon jika lebih baik hidup dipenjara, maka penjarakanlah). Itu di dunia masa tahananpun tentu ada batasnya, namun bayangan jika Alloh memvonis kita (saya/bapak/ibu) di akhirat kelak masuk penjara yang bernama neraka.

Alloh mengingatkan kepada manusia dalam QS Al-Araaf: 38 , kita bisa memahami pesan ayat di atas (mafhum mukhalafah), diantaranya “hati-hati wahai manusia, jangan sampai  engkau  terjerumus  dan masuk golongan umat sebagaimana tersirat dalam QS Al-Araaf: 38”

qaala udkhuluu fii umamin qad khalat min qablikum minaljinni wal-insi fiinnaari kullamaa dakhalat ummatun la'anat ukhtahaa hattaa idzaa iddaarakuu fiihaa jamii'an qaalat ukhraahum li-uulaahum rabbanaa haaulaa-i adhalluunaa faaatihim 'adzaaban dhi'fan minannaari qaala likullin dhi'fun walaakin laa ta'lamuun

Allah berkata: "Masuklah kamu sekalian ke dalam umat-umat (umamin) yang sungguh benar-benar telah diciptakan sebelummu dari sebagian bangsa jin dan bangsa manusia ke dalam api neraka,  setiap kali  umat  itu  masuk ke dalam neraka dia akan melaknat (mengutuk) saudara-saudaranya yang telah menyesatkan dirinya (di dunia), sampai  ketika semua umat masuk ke dalam neraka berkatalah umat yang belakangan  masuk ke neraka kepada umat yang lebih dulu masuk, Ya Robb kami mereka itulah yang telah menyesatkan kami, maka datangkanlah kepada mereka adzab yang berlipat (dhi'fan) dari pada api neraka. (maka) Alloh berkata : masing-masing kamu akan memperoleh adzab berlipat akan tetapi kalian tidak mengetahuinya. (Naudzubillahimindzalik – kami berlindung dengan Alloh dari hal itu)

Annar yang disamaartikan dengan neraka (bahasa Indonesia), penggunaan kata Neraka merupakan kecerdikan para ulama kita terdahulu, neraka merupakan turunan (derivasi) dari kata Nar  (nera) dan kanera berasal dari kata narru (bahasan arab) atau api sedang ka adalah dhomir (kata ganti) dari kamu/engkau, jadi arti neraka adalah api kamu (api yang akan membakar kamu manusia yang mendustakan agama)

Dapat dibayangkan keadaannya waktu itu (ketika seseorang/kaum) berhadapan dengan babunnar (pintu neraka) terbayang perbuatan dholim dan fahisah yang pernah dilakukan di dunia yang menyebabkan ia masuk neraka. Terbayang kawannya yang mengajak ia berbuat dholim dan fahisah. Terbayang orang-orang yang mengiming-iming berbagai kenikmatan semu di dunia tanpa memperhatikan halal dan haram. “gara-gara dia gua masuk neraka”.

Sebenarnya kutuk-mengutuk, cercaan demi cercaan sering kita dengar di depan pengadilan dunia. Kita bisa bercermin dari hal tersebut, bagaimana kolega dekat  “dipersalahkan sampai dikutuk” karena ialah yang memberikan perintah atau mengajak untuk melakukan perbuatan melawan hukum, sehingga dengan sadar ataupun terpaksa dia lakukan perbuatan itu demi mempertahankan kedudukan, atau kekuasaaan. Ini merupakan gambaran bagaimana di dunia saja sudah seperti itu. Apalagi di akhirat yang tak mungkin lagi seseorang/umat  untuk memperbaiki diri, yang ada - hanya penyesalan yang amat sangat, kalaulah bisa, ia ingin kembali ke dunia atau ia ingin sekali menimpakan hal ini semuanya kepada manusia dan as-syaithon bin Iblis yang menyebabkan dia ada di neraka. Namun apa dinyana boro-boro dia bisa melimpahkan siksaan yang diterima, karena saudaranyapun sama tengah mempertanggungjawabkan perbuatannya sewaktu di dunia yang telah berlalu dan tidak mungkin bisa kembali lagi.

Sekali lagi Kita bisa bercermin ketika melihat bagaimana para pelaku tindak pidana melakukan pembelaan (duplik) di muka hakim, ada sekian dari mereka saling membuka keburukan diantara mereka, saling lempar tanggung jawab, saling mengutuk, yang memerintahkan si anu yang mengeksekusi si anu ditemani si anu, yang memperoleh si anu dan si anu. Itulah ilustrasi  kecil ketika manusia mempertahankan diri dari berbagai tuduhan di dunia. Bagaimana di akhirat? Kalamulloh di atas sebagai salah satu jawabannya.

Ketika di dunia saudara-saudaranya (ukhtahaa) itu bisa jadi ia adalah ayahnya, bisa jadi ia ibunya, pamannya, kakeknya, atasannya atau bawahannya, yang bisa jadi hubungan sangat erat dan mesra, namun  tanpa disadari kaum kerabatnya atau saudara-saudaranya telah mengarahkannya kepada perbuatan fahisah dan perbuatan munkar serta melakukan kedholiman-kedholiman. Dan topnya kedholiman adalah mensekutukan Alloh SWT.  dengan mahluknya. Pantas kalau Lukman dalam alquran mengingatkan kepada putranya

Ya bunaya latusyrik billah inna syirka ladhulmun’adhim (wahai putraku janganlah engkau mensekutukan dengan Alloh (sesuatu mahluk) sesungguhnya mensekutukan Alloh itu sungguh kedholiman yang besar).

Dengan demikian mensekutukan Alloh dengan mahluknya merupakan pangkal kedholiman, orang-orang dholim mempersepsikan bahwa Alloh yang menciptakan mahluknya  sejajar dengan mahluk ciptaan Alloh. Sangatlah keji dan sangat buruk perkataan mereka itu bahwa Alloh itu memiliki anak, Para malaikat disebut sebagai anak-anak perempuan Alloh, kaumnya mengaku sebagai anak-anak Alloh.. Perasangka mereka bahwa Alloh memiliki  anak dan diperanakan tidak ada dasarnya, ini merupakan prasangka/dugaan yang tidak disandarkan kepada kitab Alloh. Maka pantas Alloh mengingatkan dalam kalamNya  - QS Al-Kahfi

wayundziralladziina qaaluuttakhadzallaahu waladaa [18:4]

Dan (Al-Qur’an itu juga) untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak."

Maka dalam tulisan ini al-fakir menyampaikan kembali pesan Alloh  janganlah engkau wahai umat manusia menyekutukan Alloh dengan  mahluknya. Kembalilah untuk beribadah hanya kepada Alloh.

Ikwatulliman rohimakumulloh,

Kita berharap kepada Alloh - mudah-mudahan dengan rahmat Alloh kita tidak dikelompokan kepada kelompok orang-orang yang dholim terhadap Alloh dan mewafatkan kita dalam keadaan muslim (tawaffana muslimiin) serta memasukan kita bersama-sama kelompok orang-orang sholeh  (wa’alhikna bishsholihiin). Aamiin. Wallahu A'lam Bishawab. Prsd.

Bagikan