BERCERMIN DARI KISAH ANAK CUCU NABI YA’QUB

Tanggal 03 Feb 2015 09:42 WIB

BERCERMIN DARI  KISAH ANAK  CUCU NABI YA’QUB

 
 
 

yaa banii israa-iila udzkuruu ni'matiya allatii an'amtu 'alaykum wa-awfuu bi'ahdii uufi bi'ahdikum wa-iyyaaya fairhabuun

waaaminuu bimaa anzaltu mushaddiqan limaa ma'akum walaa takuunuu awwala kaafirin bihi walaa tasytaruu bi-aayaatii tsamanan qaliilan wa-iyyaaya faittaquun

[QS: 2-Al-Baqoroh :40] Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

[2:41] Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.

Saudara-saudara seiman yang dirahmati Alloh SWT.

Alloh dalam Al-Qur’an  tidak hanya sekali menyeru  kepada bani Israil atau anak cucu dari Nabi Ya’qub  yang sekarang dikenal dengan Bangsa Israel  atau Yahudi. Adalah bangsa yang kisahnya sering kali ditemukan  dalam Al-Qur’an, tentu tiada lain agar menjadi pelajaran bagi manusia khususnya kaum muslimin.

Anak cucu dari Nabi Ya’qub  ini banyak dikisahkan pada masa kenabian  Musa A.S.   dan Nabi Harun A.S.  serta  pada awal kedatangannya ke Negeri Mesir yaitu pada masa Nabi Yusuf A.S.

Bangsa  Israel dikisahkan sebagai bangsa yang memperoleh ni’mat yang banyak serta ni’mat yang  besar dari Alloh SWT., bagaimana tidak, dari anak keturunan nabi Ya’qub ini Alloh banyak menurunkan nabi-nabi seperti nabi  Yusuf A.S,  Ayub A.S,  Suaeb A.S, Musa A.S,  Harun A.S,  Zulkifli A.S, Daud A.S, Sulaiman A.S.  dan lain sebagainya. Bani Israil  memperoleh kemerdekaan dari perbudakan  bangsa Mesir yang ada di bawah pemerintahan Fir’aun.  Dalam pelariannya menghindari kejaran tentara Fir’aun beberapa kali  umat nabi Musa ini  memperoleh penghargaan dan kasih sayang Alloh, umat Muslim diingatkan melalui Al-Qur’an  bagaimana  pasukan Fir’aun bersama Raja Fir’aun ditenggelamkan Alloh di laut merah saat melakukan pengejaran terhadap rombongan Nabi Musa, Bani Israil juga diberikan anugrah bisa mendengar kalam Alloh secara langsung, pun (bisa dikatakan kurang ajar) umat ini meminta melihat langsung (jahrotan) Zat Alloh SWT. (ini sangat tidak mugkin dilakukan manusia di dunia ini), Umat nabi Musa juga dikirim langsung hidangan dari Alloh berupa  Manna wasalwa (cairan bagaikan madu yang turun dari langit beserta daging burung sejenis  puyuh).  Diperkenankannya permintaan berupa 12 mata air yang keluar dari bebatuan  yang diperuntukan untuk masing-masing kabilah.  Namun demikian dengan nik’mat yang sedemikian luar biasa, mereka masih merasakan berbagai kekurangan, mereka  meminta  kepada Nabi Musa untuk memohon kepada Alloh, agar diturunkan pula berupa bawang putih, ketimun, kacang adas, bawang merah dsb., puncaknya ketika ditinggalkan oleh Nabi Musa selama empat puluh hari, bersama Nabi Harun, kaumnya meminta dibuatkan sembahan seperti yang dimiliki bangsa-bangsa lain. Maka kita kenal dengan patung anak sapi Musa Samiri, patung tersebut mereka sembah-sembah tanpa merasa bersalah dan merasa malu padahal bersama mereka ada Nabi Harun A.S. Tentu banyak lagi yang diberitahukan Alloh lewat Al-Qur’an berkaitan kelebihan bangsa Israil serta kekurangajarannya dihadapan Alloh SWT.

Dengan memeperhatikan berbagai kisah tersebut, ada beberapa pelajaran bagi umat muslim, diantaranya:

1.       Sebagai bangsa yang dianugerahi agama tauhid, semestinya merasa bersyukur kepada Alloh karena telah memberikan  jalan yang lurus. Namun demikian dalam perjalanannya hawa nafsu beserta godaan Syaitan telah memperdaya mereka, sedikit demi sedikit ketauhidan mereka akan ketuhanan Alloh mulai terkikis, mereka berani mempersekutukan Alloh, diantaranya membuat sembahan selain Alloh, mereka mengabdi kepada patung anak sapi Musa Samiri, mereka mengangkat Ujair sebagai putra Alloh (Ujairu ibnulloh) sebagaimana juga mereka memperdaya kaum nasrani untuk sama-sama mengangkat mahluk menjadi anak Alloh yaitu Isa ibnulloh (Isa anak Alloh), mereka menganggap malaikat Alloh sebagai putri-putri Alloh. Sungguh besar kedholiman mereka terhadap Alloh SWT.   Bangsa Indonesia  yang memiliki kesamaan sebagai bangsa yang juga merasakan pahit getirnya penjajahan (menjadi budak tentara Belanda dan Jepang)  tentu ini sangat berpangaruh terhadap pola  prilaku serta mental, mental  manusia-manusia  jajahan tentu masih kita rasakan.  Anugerah kemerdekaan  bagi bangsa Indonesia adalah sebagai  penghargaan dan kasih sayang Alloh kepada Bangsa Indonesia, janganlah kita rusak anugrah tersebut, sebagaimana  Bani Israil merusak  janji mereka kepada Alloh  yaitu dengan mensekutukan Alloh. Alloh telah mengatakan kepada Bani Israil

yaa banii israa-iila udzkuruu ni'matiya allatii an'amtu 'alaykum wa-awfuu bi'ahdii uufi bi'ahdikum wa-iyyaaya fairhabuuni

[2:40] Hai Bani Israil, ingatlah akan ni'mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).

Mafhum mukhalafah-nya (ragam pemahamannya) antara lain adalah wahai manusia (termasuk tentunya bangsa Indonesia) perhatikanlah kisah anak cucu Ya’qub (Bani Israil) dia itu diberikan nikmat oleh Alloh, ia diperintahkan berpegang teguh pada janji (untuk hanya mengabdi kepada Alloh dan tidak mensekutukannya), jika saja mereka itu memenuhi janjinya maka Alloh akan juga memenuhi janjiNya. Kamu itu seharusnya hanya takut dan tunduk kepada Alloh.

Tapi kenyataanya Bani Israil berpaling, dia mengingkari Alloh, pada perkembangannya mengingkari kerasulan Isa A.S. dan kerasulan Muhammad SAW.

 

(Alloh pun berkata kepada Bani Israil) Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa.

 

Kenyataannya mereka (Bani Israil), menyalahi janji, tidak beriman kepada Al-Qur’an, kitabnya sendiri (Taurat) telah di tambah-tambah salah satunya menyatakan bahwa Ujair anak Alloh, mereka telah menukar ayat Alloh dengan harga yang sangat rendah. Naudzubillahimindzalik.

 

2.       Maka dari itu renungkanlah:

Masihkah nikmat Alloh berupa kemerdekaan  lepas dari belenggu penjajahan/perbudakan kita sia-siakan. Kita (saya, bapak dan Ibu) sudah semestinya bisa becermin  dari kisah Bani Israil

Syukur kita kepada Alloh akan nikmat kemerdekaan semestinya dicirikan dengan semakin dekatnya bangsa ini kepada Alloh, tidak malah melakukan  penyekutuan terhadap Alloh. Alloh dalam  Al-Qur’an  surat  30. Ar-Ruum ayat 42 menyebutkan “qul siiruu fii al-ardhi faunzhuruu kayfa kaana 'aaqibatu alladziina min qablu kaana aktsaruhum musyrikiinaKatakanlah: "Adakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang terdahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)."

 Jangan sampai kita  ini kepada Alloh mengatakan percaya, namun kenyataannya kita masih mendatangi dukun, masih meminta kepada makam-makam karuhun, masih melakukan pengabdian kepada selain Alloh. Mengadakan upacara-upacara yang  menjurus kepada kemusyrikan, dsb. Kita mengatakan percaya kepada Alloh tapi nyatanya kita tidak mau mengikuti  ajaran Alloh, Ibadah sering ditinggalkan, pola produksi, pola konsumsi, pola distribusi sangatlah jauh dari ajaran Alloh. Lalu pertanyaannya apa bedanya kita dengan Bani Israil.

Jikalau bani Israil ataupun bangsa lainnya itu teguh memegang janji, ia mengakui kerasulan Rosululloh Muhammad SAW serta membenarkan kitab –kitab Alloh  (Taurat, Injil dan Jabur) dan bertaqwa kepada Alloh. Niscaya Bani Israil serta bangsa-bangsa selainnya (termasuk bangsa Indonesia) akan diangkat derajatnya disisi Alloh baik di dunia maupun  di akhirat. Wallahu A'lam Bishawab. Prsd.

Bagikan
Berita Terkait