Pebinaan Mental bagi Pegawai Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat

Tanggal 28 Jan 2015 09:35 WIB

MUHASABAH UNTUK HIDUP YANG LEBIH BAIK DI HARI ESOK

 

 
 
 
 
 

yaa ayyuhaa lladziina aamanuu ittaquullaaha waltanzhur nafsun maa qaddamat lighadin wittaquullaaha innallaaha khabiirun bimaa ta'maluuna

[59:18] Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-qur’an Surat al-Hasyr ayat 18)

Pentingnya muhasabah (Evaluasi diri)  dalam rangka menghadapi tahun 2015. Merupakan tema pelaksanaan kegiatan Bimbingan mental bagi Pegawai Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Barat yang diselenggarakan di Lobi ruang sidang DPRD Provinsi Jawa Barat tanggal 17 Januari 2014.

Muhasabah (menghitung, mengevaluasi atas capaian amal) selayaknya bisa dilakukan oleh setiap muslim guna memperoleh kebahagian di akhirat kelak. Namun demikian Muhasabahpun bisa dijadikan bahan untuk menata kehidupan manusia didunia untuk hidup yang lebih baik yaitu kehidupan yang dicirikan dengan semakin meningkatnya keimanan kepada Alloh SWT serta semakin meningkatnya amal sholeh (antara lain etos kerja di tempat kerja). Sebagaimana  Al-Qur’an Surat al-Hasyr ayat 18 yang telah disebutkan di atas  Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan perhatikanlah (undhur) dirimu (nafs)  apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengkhabarkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.

Dalam melakukan evaluasi penting untuk diperhatikan,

Pertama, Evaluasi harus dibarengi dengan prinsip keikhlasan. Ikhlas berasal dari kata akhlasha yg merupakan bentuk kata kerja lampau transitif yg diambil dari kata kerja intransitif khalasha dengan menambahkan satu huruf ‘alif.  bentuk mashdarnya yaitu ikhlash. Kata tersebut berarti, murni, bersih, jernih, tanpa campuran. niatkan ibadah hanya karena Allah, murni, jernih, bersih tanpa campuran.

Inilah yang sejatinya kita pegang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Beribadah dan bekerja yang didasari dengan dasar ikhlas akan mendatangkan energi positif bagi kehidupan manusia. Dia tidak haus pujian. Lawan ikhlas adalah riya dan sum’ah. Riya merupakan sifat manusia yang selalu ingin dilihat atas amal yang akan, sedang dan telah diperbuat sedangkan sum’ah merupakan  sifat manusia yang selalu ingin didengar atas amal yang akan, sedang dan telah diperbuat. Sifat Riya dan Sum’ah  timbul karena adanya rasa diri ingin dipandang lebih dibanding dengan orang lain, seperti merasa ingin dianggap pintar, merasa ingin dipandang kaya, merasa ingin dianggap paling taat menjalankan ibadah dan sebagainya. Orang yang ikhlas akan sekuat mungkin atau berupaya keras untuk menepis sifat riya dan sum’ah. Ia tidak akan mempedulikan penilaian manusia baik itu berupa cacian ataupun pujian atas amal yang diperbuat, ia akan senantiasa mengharapkan keridhoan Alloh SWT. Ketimbang mencari penilaian orang lain.

Seseorang yang ikhlas, dalam kehidupan sehari-harinya akan memiliki  karakter :

  1. Bekerja dan beribadah  hanya  semata-mata mengharapkan imbalan (ajr) dari Alloh, dengan niat karena Alloh
  2. Bekerja sungguh-sungguh dengan upaya sebaik-baiknya
  3. Selalu berupaya melakukan yang terbaik dari waktu ke waktu.

Kedua, Evaluasi harus dibarengi dengan prinsip jamaah (kebersamaan). Ini penting karena tidak satupun manusia yang dapat hidup sendirian, ia tidak lepas dari uluran tangan orang lain baik langsung maupun tidak langsung. Kita bisa melihat dan memperhatikan diri kita masing-masing, fasilitas yang kita pakai  dari mulai ujung kaki sampai ujung rambut tidak lepas dari bantuan orang lain. Kaki memakai sepatu atau sandal, tentunya tidak semua kita - ahli dalam membuatnya, dengan demikian tentu saya, bapak dan ibu akan meminta tukang sepatu atau sandal untuk membuatkan sesuai ukuran yang cocok bagi kita.

Naik kebagian tubuh lebih atas,  kita memerlukan celana, baju, ikat rambut, ikat pinggang, jilbab, gelang, cincin, minyak wangi, minyak rambut, shampoo, dan banyak yang lainnya yang tidak bisa kita sediakan sendiri. Maka jelaslah bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian. Ia senantiasa bergantung satu sama lain. Mensyarikatkan Alloh hukumnya dosa besar namun membangun syarikat atau berjamaah antara satu dengan umat manusia yang lain guna menciptakan kemaslahatan adalah suatu amal ibadah yang besar pahalanya. Ta’awanu ‘alal birri wataqwa wala ta’awanu ‘ala istmi wal ‘udwan, tolong menolonglah kamu atas perbuatan baik (albirr) dan ketakwaan kepada Alloh dan janganlah tolong menolong atas perbuatan dosa dan permusuhan.

Untuk itu mudah-mudahan evaluasi yang kita lakukan baik secara personal maupun kelembagaan menghasilkan umpan balik yang bermanfaat bagi kehidupan kita semua baik untuk hari ini dan esok di dunia (jika Alloh masih berkenan memberi  usia) maupun dikehidupan akhirat. Wallahu A'lam Bishawab. Semoga Alloh memberikan keselamatan kepada kita pada hari kita dilahirkan, pada hari kita diwafatkan dan pada hari kita dibangkitkan. (Allohuma anta salam salamun ‘alaina yauma wulidna wayauma namuttu wayauma nab’atsu hayya. Aamiin)

Sumber tulisan: ceramah Almukarom Al-ust. Bapak  KH. Ahmad Khumedi, Lc. di depan pegawai Sekretariat DPRD Jabar, di Lobi Ruang Sidang tgl 17 Januari 2015
disarikan secara bebas oleh Al-fakir - AAR

Bagikan
Berita Terkait