Nelayan Tradisional Pelabuhan Ratu Keluhkan Mafia Laut

Tanggal 17 Dec 2015 10:33 WIB
Perwakilan SPMI beraudiensi dengan BP Perda DPRD Jabar di TPI Pelabuhan Ratu

Sejumlah nelayan di kawasan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi keluhkan persaingan tidak sehat yang disinyalir dari pengusaha besar selain nelayan tradisional. Hal itu berdampak pada hasil penangkapan dan kesejahteraan para nelayan diwilayah tersebut. Karena itu, DPRD Jabar mendorong nelayan tradisonal Pelabuhan Ratu untuk mendapatkan perlindungan dan penjaminan kesejahteraan dari pemerintah daerah.

Ketua Rombongan Badan Pembentukan Peraturan Daerah (BP Perda) DPRD Jabar, Lina Ruslinawati mengatakan, nasib nelayan dikawasan Pelabuhan Ratu harus mendapat perhatian serius dari Pemprov Jabar. Pasalnya, selain hasil laut yang kian berkurang ditambah dengan masuknya kapal ilegal sekaligus merugikan para nelayan sekitar.

"Keluhan dari nelayan sekitar ini menampung masukan agar segera dibuatkan kebijakan bagi para nelayan," ujar Lina di Kantor Tempat Pelelangan Ikan Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi baru-baru ini.

Dia menambahkan, potensi kelautan dan perikanan dikawasan tersebut akan berdampak besar terhadap perekonomian Kabupaten Sukabumi. Namun, disisi lain keberadaan nelayan tradisional tidak dapat dipandang sebelah mata. Justru seharusnya diberdayakan sesuai dengan kebijakan.

"Justru sebaliknya, nelayan ini harus diakomodir sesuai dengan tingkatannya yang mampu berdaya saing," katanya.

Kepala Seksi bidang teknologi penangkapan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi, Deden Abdul Kohar mengatakan, secara geografis wilayah kelautan memiliki jarak yang sudah ditentukan untuk area penangkapan (Fishing Ground) sesuai dengan peraturan yang berlaku termasuk kemampuan kapal dalam mengarungi zona lautan. Hal ini menjadi kendala bagi kemampuan nelayan kecil untuk menentukan area penangkapan ikan lantaran berbeda daya jelajah kapal dengan kapal pengusaha besar.

"Fishing ground dengan kemampuan perahu berdaya 5 GT itu untuk nelayan kecil. Perahu besar berdaya 10 GT untuk zona di hampir perbatasan laut. Sehingga untuk ikannya pun sudah berkurang," ujar Deden.

Sementara, lanjut dia, Undang-undang perikanan sudah jelas, termasuk jaring penangkap ikan dalam perahu pun harus diregulasi. Pursin (kapal sibolga) dimodifikasi agar dapat menangkap ikan yang lebih kecil. Sementara nelayan tradisional harus mentaati peraturan. Tidak jarang para pengusaha nakal masih tetap melanggar lantaran kemampuan kapalnya yang diatas perahu nelayan.

"Mafia laut ini masih saja ada, padahal perijinan ada. misalnya dalam menentukan Rumpon (ciri ditengah laut) rumpon harus beraturan. Sejauh ini Kementerian kelautan sudah paham, tetapi upaya untuk mengadvokasi para nelayan tradisional ini yang masih kalah sama pengusaha," katanya.

Dia melanjutkan, berbagai upaya untuk melindungi nasib para nelayan sudah dilakukan. Di antarnya program asuransi dari Dinsos Jabar yang preminya ringan dan di akhir tahun dapat dikembalikan kepada tertanggung dalam hal ini para nelayan. Tak kurang dari 20 anggota asuransi bergabung selama dua tahun terakhir.

"Ketika tidak ada masalah dalam setahun, maka asuransi kesehatan itu akan dikembalikan, ini sangat membantu nelayan," ungkapnya.

Sementara itu, Perwakilan anggota Serikat Pekerja Maritim Indonesia (SPMI), Asep Suwanda mengatakan, selain tergeser oleh kapal pengusaha besar nasib nelayan pun kini terusik kapal tongkang batubara. Di ketahui dikawasan Pelabuhan Ratu terdapat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan bahan bakar batu bara. Hal itu menambah deretan permaslahan yang dihadapi para nelayan tradisional.

"Harus ada solusi yang nyata bagi nasib kami para nelayan. Aktivitas transportasinya tidak seberapa bagi nelayan, tetapi limbah maupun batubara yang terjatuh itulah yang mencemari laut dan mengurangi hasil tangkapan ikan nelayan tradisional," tandasnya

Bagikan
Berita Terkait
Komisi V Khawatirkan Mafia Atlet
16 Jan 2015 07:52 WIB
Reses, Warga Keluhkan Gal Elpiji
02 Mar 2015 08:04 WIB
Pimpinan DPRD
Agenda
Kurs Valas
Mata Uang Jual (Rp) Beli (Rp) Tanggal
AUD 10.828 10.717 21 Nov 2017
BND 9.226 9.133 21 Nov 2017
CAD 10.582 10.472 21 Nov 2017
CNH 1.948 1.948 21 Nov 2017
CNY 1.872 1.854 21 Nov 2017
SAR 3.078 3.048 21 Nov 2017
SGD 9.226 9.133 21 Nov 2017
USD 11.544 11.430 21 Nov 2017
Sumber: Bank Indonesia