Pembangunan Venue PON Banyak yang Gagal-Dewan Dukung Pengetatan Pengawasan

Tanggal 06 Feb 2015 08:45 WIB
Ali Hasan: Pembangunan venue PON XIX banyak yang terlambat

DPRD Jawa Barat menyayangkan keterlambatan pembangunan sejumlah venue yang akan digunakan pada Pekan Olahraga Nasional XIX/2016. Selain karena menggunakan anggaran yang tidak sedikit, pelaksanaan PON 2016 pun tinggal menyisakan waktu yang sedikit.

Ketua Komisi IV DPRD Jabar Ali Hasan mengatakan, saat ini banyak sejumlah proyek pembangunan venue yang molor. Molornya pembangunan ini pun tersebar di sejumlah kabupaten/kota yang menggelar pertandingan cabang olahraga PON 2016.

Sebagai contoh, kata Ali, saat Komisi IV melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sukabumi, Selasa-Rabu (3-4 Februari), pihaknya menemukan banyak proyek pembangunan venue yang molor. Bahkan, kata Ali, pengerjaannya pun sudah putus kontrak akibat tidak selesai hingga batas akhir yang ditentukan.

"Pembangunan venue untuk tinju di Pelabuhanratu gagal total. Di sana ada enam proyek pembangunan, semuanya gagal dan putus kontrak," kata Ali di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Kamis (5/2).

Proyek yang gagal pada tahap pertama tersebut di antaranya pembangunan sasana tinju,  pembangunan jalan masuk dan lahan parkir sport centre, pembangunan taman gedung sport centre, pembangunan sumur artesis, rumah pompa dan jaringan air sport centre, pengadaan instalasi listrik dan genset sport centre, dan pembangunan talud sport centre.

"Itu semua gagal, semuanya putus kontrak karena tidak bisa menuntaskan pekerjaan," kata Ali kembali menyesalkan. Ali menuturkan, pembangunan sasana tinju Pelabuhan ratu sport centre nilai kontraknya mencapai Rp 10,67 miliar.

Namun, baru terselesaikan sekitar 36 persen dengan realisasi anggarannya baru terserap Rp 3,85 miliar. Menurutnya, proyek tersebut dikerjakan oleh PT Lince Romauli Raya yang beralamat di Jakarta.

Selain itu, pembangunan jalan masuk dan lahan parkir sport centre yang nilai kontraknya mencapai Rp 1,71 miliar pun belum tuntas. Proyek yang dikerjakan oleh CV Kurawa Peduli ini hanya terselesaikan 94,31 persen dengan dana yang terserap hanya Rp 1,62 miliar.

Tidak hanya itu, pembangunan taman sport centre yang nilai kontraknya mencapai sekitar Rp 982,1 juta pun tidak selesai hingga batas akhir yang ditentukan. "Begitu juga dengan pembangunan sumur artesis, rumah pompa dan jaringan air, pengadaan instalasi listrik dan genset," ucapnya.

Ali menilai, kondisi tersebut sangat memprihatinkan mengingat pelaksanaan PON yang tidak akan lama lagi. "Kita sangat prihatin. Mestinya ada pengawasan terhadap itu. Ini menunjukkan kalau bupati di sana kurang mengawasi pembangunan venue," katanya.

Maka dari itu, Ali sangat mendukung langkah Gubernur Jabar yang berencana membentuk tim khusus untuk mengawasi pembangunan venue. "Komisi IV DPRD Jabar mendukung gubernur membentuk tim khusus  untuk evaluasi persiapan Pon 2016. Ini sangat penting karena selama ini pengawasan pembangunan proyek-proyek venue belum optimal," ujarnya seraya menyebut Gubernur terlambat dalam membentuk tim khusus ini.

"Gubernur kecolongan, pencairannya sudah tapi proyek tidak selesai.  Jangan mempercayakan ke kabupaten yang dapat bantuan," tambah Ali.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berencana membuat panitia khusus yang akan mengawasi dan mengevaluasi proses pembangunan venue-venue yang akan digunakan pada Pekan Olahraga Nasional XIX/2016 di Jawa Barat. Hal itu dirasa penting agar persiapan pelaksanaan  PON 2016 berjalan lancar.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, meski menggunakan dana dari provinsi, pembangunan venue PON dilakukan oleh masing-masing daerah. Sehingga, Heryawan khawatir pembangunan PON tidak maksimal jika tidak dilakukan pengawasan yang baik.

"Kita akan buat semacam panitia khusus untuk evaluasi perbaikan venue, jangan sampai ada yang terbengkalai. Seluruh perbaikan dan pembangunan venue harus selesai tahun 2015," kata Heryawan usai memimpin rapat Pemprov di Gedung Sate, Bandung.

Heryawan menjelaskan, selain dibangun oleh provinsi, venue pun dibangun oleh pihak lain seperti pemerintah kabupaten/kota, instansi vertikal, kampus, serta lembaga swasta. "Ini kan menyangkut orang lain, sementara hajatnya provinsi dan semuanya. Kita khawatir rasa kepemilikannya terhadap perbaikan venue tidak sekuat provinsi, sehingga  harus ada evaluasi yang lebih kuat," paparnya.

Heryawan menjelaskan, anggaran untuk pembangunan dan perbaikan venue PON sendiri mencapai sekitar Rp 1,3 triliun. Adapun pembangunan dilakukan di 14 kabupaten/kota.

Namun, pembangunan paling banyak dilakukan di kawasan Bandung Raya mengingat banyaknya cabang olahraga di kawasan tersebut. Lebih lanjut Heryawan katakan, saat ini pihaknya tengah menggodok terbentuknya project management office yang akan membantu persiapan PON 2016.

"Sebentar lagi ada PMO yang kita tunjuk, ini  lagi tender, PMO ini akan intens mewakili PB PON untuk terus menerus berkoordinasi dengan stakeholder dan kabupaten untuk pembangunan venue," pungkasnya.

Bagikan
Berita Terkait
Pimpinan DPRD
Agenda
Kurs Valas
Mata Uang Jual (Rp) Beli (Rp) Tanggal
AUD 10.828 10.717 22 Sep 2017
BND 9.226 9.133 22 Sep 2017
CAD 10.582 10.472 22 Sep 2017
CNH 1.948 1.948 22 Sep 2017
CNY 1.872 1.854 22 Sep 2017
SAR 3.078 3.048 22 Sep 2017
SGD 9.226 9.133 22 Sep 2017
USD 11.544 11.430 22 Sep 2017
Sumber: Bank Indonesia