PEMBOROS (PENYIA-NYIA) ITU NAMA LAIN DARI SYAITHON

Tanggal 30 Jan 2015 15:29 WIB

PEMBOROS (PENYIA-NYIA) ITU NAMA LAIN DARI SYAITHON

waaati dzaa alqurbaa haqqahu waalmiskiina waibna alssabiili walaa tubadzdzir tabdziiraan

inna almubadzdziriina kaanuu ikhwaana alsysyayaathiini wakaana alsysyaythaanu lirabbihi kafuuraan

 

[17:26] Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

[17:27] Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Seberapa seringkah saya, bapak, ibu mendapati tempat makan seperti gambar di atas? Baik itu ketika  di rumah, tempat pesta atau tempat kerja?.  

Rasanya saya sendiri sangat sering melihat hal tersebut, seolah-olah kita (bisa jadi saya sendiri) mencicipi hidangan baik di rumah, tempat pesta maupun di tempat kerja tidak apdhol jika tidak menyisakan makanan di piring. Apakah yang terbayang dalam diri kita (saya, bapak dan ibu) ketika melihat ini. Jawaban tentu beragam:

  1. Aku tak peduli dengan keadaan tersebut
  2. Mungkin ybs. terlalu banyak mengambil makanan
  3. Mungkin masakannya kurang enak
  4. Saya biasa mengikuti kebiasaan orang lain, kalau makan menyisakan makanan, (maaf ) jika merokok cukup setengahnya. Jika minum merasa tidak pas kalau tidak tersisa.

Apapun alasan yang dikemukakan, dalam ajaran agama Islam sifat تبذير (menyia-nyiakan/boros)  tidak dibenarkan bahkan dicap sebagai saudara-saudara syaitan.

 innalmubadzdziriina kaanuu ikhwaanasysyayaathiini wakaanasysyaythaanu lirabbihi kafuuraa

Sesungguhnya almubadzdzir (pemboros-pemboros/orang yang menyia-nyiakan) itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu untuk tuhannya  sangat ingkar.

Belajar dari ayat Al-Qur’an di atas, maka kita bisa mengambil pelajaran:

  1. Ketika kita menggunakan karunia Alloh, baik berupa makanan, minuman, waktu dan sebagainya. Maka ingat bahwa itu penghargaan atau kasih sayang dari Alloh. Maka manfaatkan secara optimal dalam rangka menggapai keridhoan dari Alloh. Menyisakan karunia Alloh atau menyia-nyiakannya sehingga menjadi mubajir  itu berarti mengingkari nikmat Alloh atau kufur nikmat sama  karakternya dengan Assyaithon.
  2. Supaya tidak dianggap menyia-nyiakan karunia Alloh, ketika ada makanan berlebih sebaiknya diberikan kepada yang membutuhkan, bisa kepada saudara atau tetangga.
  3. Jikapun ada sisa yang tidak bisa dimanfaatkan oleh kita, maka seorang muslim harus menjadi lebih kreatif sehingga bisa bermanfaat, sepertihalnya dijadikan pakan ternak. Sebenarnya inilah yang kurang dari kita (termasuk saya) untuk lebih kreatif membangun kehidupan sehingga bisa mempergunakan potensi lebih  optimal. Coba saja perhatikan di rumah kita ada bayak sisa rumah tangga:
  1. Ada sisa nasi, sisa sayur, sisa daging, ikan, tulang belulang
  2. Coba buka lemari es (kulkas) berapa banyak sayuran yang tak sempat dimasak malah menjadi kering, ada bawang, tomat,  cabe. Dsb.
  3. Coba lihat tempat bumbu, bisa jadi ada bumbu yang sudah terlalu lama tidak digunakan.

Saya pribadi menyurvei kecil-kecilan dirumah sendiri, ternyata banyak yang tidak termanfaatkan  dan berpotensi dibuang.

Tahukah bahwa barang-barang tersebut jika diolah akan menjadi pakan  ternak, katakanlah pakan ikan lele sebanyak 1000 atu 2000 ekor untuk satu atau dua hari. Dan sisa-sisa tersebut selalu saja tersedia, ini akan menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan.

Sungguh manusia itu cenderung boros dan menyia-nyiakan nikmat Alloh.

Bahkan dalam ayat sebelumnya Alloh mengatakan:

waaati dzaa alqurbaa haqqahu waalmiskiina waibna alssabiili walaa tubadzdzir tabdziiraan

[17:26] Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Ketimbang melakukan tabdziir/boros lebih baik kita (saya, bapak, ibu) memperhatikan keluarga dekat, perhatikan orang-orang miskin yang mungkin sangat memerlukan.

Untuk itu coba renungkan kembali;

  1. Pilih mana: bakar petasan/kembang api atau uangnya dikumpulkan dan diberikan kepada teman yang kekurangan?
  2. (Maaf) Pilih mana: bermain perempuan dan minuman keras atau membatalkan niat dan bertekad uangnya untuk  membahagiakan pasangan hidup (isteri) dan anak-anak?
  3. Pilih mana: menghabiskan waktu untuk menonton sesuatu yang kurang bermanfaat atau bertekad memanfaatkannya untuk beribadah atau bekerja? Dsb.

Pilihan kembali  kepada kita (saya, bapak dan ibu), apakah kita masih berpikir untuk terus menyia-nyiakan karunia Alloh alias boros (dan masuk rombongan assyaithon) atau lebih memilih amal shaleh yang dicintai Alloh SWT. Wallahu A'lam Bishawab. Prsd.

Bagikan
Berita Terkait
Pimpinan DPRD
Informasi Sekretariat
Agenda
Twitter
Facebook